
https://sites.google.com/view/socialproblemsebagaikonseppai/home
Sudah bukan rahasia lagi bahwa dinamika kehidupan suatu masyarakat dapat dilihat dari dinamka pendidikannya. Jika dinamika pendidikan berjalan baik, sudah tentu dinamika kehidupannya pun berjalan dengan baik, begitu pula sebaliknya. Sementara itu peradaban sangat ditentukan oleh sistem pengetahuan yang mendasarinya, yang mana sistem pengetahuan disosialisasikan dan dilembagakan melalui pendidikan. Jika pada abad ke-8 sampai dengan abad ke-12 M peradaban umat islam begitu maju, misalnya, tentu karena pengetahuan dan pendidikan mereka juga mencapai kemajuan. Tetapi, sekarang peradaban umat Islam mengalami stagnansi dan bahkan mengalami kemunduran dalam sistem pengetahuan dan pendidikan.
Seperti yang telah diungkapkan oleh Fazlur Rahman yang merupakan seorang pemikir dalam dunia pendidikan islam modern, bahwa pangkal dari kemunduran pendidikan Islam adalah dikotomi atau pemisahan ilmu, yaitu ilmu tradisional (Islam) di satu sisi dan ilmu sekuler modern (umum) di sisi lain. Pemisahan ilmu ini mengakibatkan terjadinya dualisme dalam sistem pendidikan kita. Padahal seharusnya pendidikan diselenggarakan secara integratif dan ditujukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia.
Hal yang lebih memprihatinkan dari dikotomi tersebut adalah munculnya pandangan tentang ilmu yang bebas nilai. Pandangan ini yang mendasari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa memikirkan kemaslahatan dan kemudharatannya bagi manusia, alam beserta isinya, mereka mencampakkan nilai-nilai akhlak dan moral dengan dalih itu merupakan wilayah dari ilmu agama. Di sisi lain mereka yang mendalami ilmu agama begitu larut akan ritual keagamaannya sambil membayangkan kebahagiaan di akhirat, akibatnya mereka menjadi orang asing saat dihadapkan pada problem sosial keinian yang marak terjadi. Seperti, kemiskinan, pengangguran, ketenagakerjaan, kemajuan teknologi, kapitalisme, dan yang lainnya. Solusi yang kita harapkan muncul dari mereka malah yang muncul adalah justru merka menjadi bagian dari masalah tersebut dengan menjadi pelaku kekerasan atas nama agama, intoleransi dan sebagainya.
Dari fakta-fakta yang kita ungkap diatas gagasan dan konsep pendidikan islam berbasis problem sosial yang ditawarkan oleh para pemikir layak menjadi solusi untuk mendobrak stagnansi dan dikotomi ilmu, diharapkan melalui gagasan ini pelaksanaan pendidikan Islam di lembaga-lembaga pendidikan kita, baik madrasah, sekolah, pesantren dan perguruan tinggi mampu melahirkan individu-individu yang merepresentasikan Islam yang rahmatan lil alamin. Dengan begitu, Islam dapat kita hadirkan sebagai jalan keluar dari berbagai persoalan bangsa yang kian kompleks dewasa ini.
Source: Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial/Sutrisno & Muhyidin Albarobis-Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2020.
