Basa-Basi Bagian dari Sopan Santun by Deni Kurnia Shoffa

Ternyata Basa-basi Ada Ilmunya Loh..

-Deni Kurnia Shoffa-

 Dalam keseharian kita mengenal apa yang dinamai “basa-basi” apalagi bagi orang jawa khususnya hal tersebut sudah seperti sebuah keharusan dalam tata cara berperilaku sehari-hari, bahkan sudah dianggap sebagai bagian dari adab sopan santun. Dalam islam pun dikenal apa yang dinamai mudarah, yaitu bersikap lemah lembut menampilkan senyum dan berbicara halus terhadap seseorang yang kebiasaan sikapnya buruk. Itu ditampilkan meskipun hati yang menampilkannya tidak simpatik kepada yang dihadapannya. Diriwayatkan bahwa suatu ketika ada seseorang yang meminta izin menemui Nabi saw. Beliau mengizinkannya sambil berkomentar dihadapan istri beliau Aisyah ra. tentang keburukan sifat orang itu. Setelah yang bersangkutan meninggalkan Nabi saw., Aisyah ra. bertanya: “Wahai Nabi! Engkau tadi (di hadapanku) telah berucap (buruk) menyangkut perangai orang itu, tetapi engkau tetap berlemah lembut terhadapnya.: Nabi menjawab:

“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah siapa yang ditinggalkan oleh manusia karena ingin menjauhi keburukannya” (HR. Muslim)

Sangat populer ungkapan yang oleh sementara ulama dinisbahkan kepada Nabi saw.:

“Sungguh kami menampakkan gigi (tersenyum) di hadapan sekelompok orang padahal hati kami mengutuk mereka.”

Dari sini dapat kita pahami bersama mengapa al-Qur’an menjadikan salah satu ciri hamba-hamba Allah yang terpuji adalah mengucapkan salamperpisahan demi kedamaian terhadap orang-orang yang berlaku tercela. Karena melayani orang yang berlaku buruk dapat melahirkan keburukan baru begitu seterusnya layaknya lingkaran setan keburukan.

Perlu digaris bawahi bahwa basa-basi atau mudarah yang ditampilkan Nabi saw. di atas berbeda dengan apa yang terlarang oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, yakni mudahanah. Kata mudarah secara umum dimaknai sebagai upaya meraih manfaat duniawi atau ukhrawi atau keduanya dengan berbasa-basi, sedang mudahanah adalah upaya meraih manfaat duniawi dengan mengorbankan agama atau manfaat akhrawinya. Kalau kita tutup mata terhadap keburukan tetapi tujuan kita adalah untuk keselamatan agama kita dan berharap kebaikan diri dari yang sedang kita hadapi, maka itu dibolehkan dan itulah mudarah, tetapi jika kita tutup mata karena kepentingan duniawi semata dan terkesan menyetujui sikap pihak lain, maka inilah yang terlarang.

Basa-basi yang dibenarkan adalah bersikap lemah lembut pada pihak lain dengan harapan lahirnya simpati sehingga yang dihadapi dapat menerima kebenaran.

Source: Quraish Shihab, M. Akhlak:yang hilang dari kita. 2019. PT.Lentera Hati.