Wudhu, dari perspektif Neurologis – Psikis by Deni Kurnia Shoffa

 

Rahasia air wudhu telah banyak dikaji dan dibahas dalam berbagai bentuk penelitian, seperti telah kita ketahui bersama bahwa berwudhu atau air wudhu bukan hanya sekedar syarat “tekstual” sebelum pelaksanaan shalat atau ibadah-ibadah lain, melainkan lebih dari itu didalamnya tersirat berbagai hikmah dan manfaat yang luar biasa.

Dunia yang semakin modern dan perkembangan pesat iptek melatarbelakangi penelitian yang dilakukan oleh para saintis tentang makna dan rahasia wudhu. Dari kalangan neurolog dan psikiater sendiri melakukan pembuktian bahwa air wudhu yang dibasuhkan pada tiga pusat kesadaran manusia, yaitu bagian kepala, tangan, dan kaki, memiliki fungsi tersendiri sebagai shock therapy untuk menurunkan suasana beta ke suasana alfa. Dan ternyata ke- khusyuk- an seseorang lebih gampang dicapai pada saat berada dalam keadaan alfa. Dalam rangka penyempurnaan shalat menciptakan posisi hening (thuma’ninah) sangat diperlukan maka dari itu wudhu sebagai prolog dalam pelaksanaan shalat tentu sangat berperan penting.

Prof. von Omar Rolf Ehrenfels, seorang neurolog sekaligus psikiater pernah mengungkap rahasia dan hikmah dibalik wudhu, dalam artikelnya berjudul Die Symbolik kim Islam. Ia menyatakan: “Pada peristiwa ini, daya tubuh dipengaruhi oleh beberapa gerak, sikap, dan perlakuan tertentu pada muka, tangan, dan kaki. Penyucian anggota badan akan menghentikan pusat saraf dari kelelahan dan kegelisahan. Hal ini penting bagi setiap orang yang ingin mencapai pemusatan pikirannya. Pusat-pusat saraf sebelah dahi, tangan, dan kaki sangat peka. Kebenaran ini telah dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern. Kita harus membersihkan bagian-bagian badan tersebut dengan mencucinya menurut cara yang disyaratkan oleh islam. Dengan demikian, hal itu dapat menentramkan kepekaan dan membuat selaras dengan pusat kesadaran kita. Apabila yang demikian tidak dilakukan, maka pengaruh kesadaran dari luar jadi meresap ke dalam, sehingga terganggu lah keheningan konsentrasi kita dalam shalat.”

Kesungguhan ilmuwan ini dalam meneliti tentang hikmah dibalik air wudhu dan organ tubuh yang ditargetkan untuk dibasuh dengan air segar, membuahkan hidayah Allah Swt., menjadikannya sebagai mualaf dan memasang kata Omar sebagai nama depannya. tidak berhenti sampai disitu, bahkan yang menarik, Ia merekomendasikan karya ilmiahnya agar aktivitas wudhu bukan hanya menjadi milik umat Islam, melainkan kepada siapa pun yang menghendaki kesegaran dan kesehatan neurologis.

Source: Umar, Nasaruddin. Shalat Sufistik, Meresapi Makna Tersirat Gerakan dan Bacaan Shalat. Alifia Books.2019.